Mengenal Tokoh Inspiratif dan Founder Kampung Inggris Pare

Citizen Reporter

Laporan: Ahdan Sinilele
Dosen Komunikasi UMI Makaasar

WARTALLDIKTI9.COM – Menyebut nama Pare Kediri, maka yang terbayang dalam pikiran kita adalah Kampung Inggris. Secara potensi sumber daya sesungguhnya Pare tidak lebih dari kampung-kampung atau daerah lainnya di berbagai tempai di Nusantara.

Hanya saja dengan Kampung Inggrisnya menjadikan Pare populer di seantero nusantara. Sudah barang tentu dibalik itu semua pastilah ada tokoh yang menjadi pemeran utama di dalamnya dan faktor pendukung lainnya.

Lalu siapakah tokoh dibalik itu ? Dalam tulisan ini akan diulas secara tuntas tentang tokoh dibalik Kampung Inggris yang mengharumkan itu. Saya telah menemui beberapa sumber untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan nama Kampung Inggris tersebut.

Dalam tulisan pertama, Mengenal lebih dekat Pare sebagai Kampung Inggris, (https//wartalldikti9.com/2020/01/01), telah mendapatkan informasi yang menyakinkan tentang siapa dibalik nama tenar itu.

Dua tokoh yang tidak bisa terlepas dari jasa pembentukan nama Kampung Inggris. Kedua tokoh utama itu adalah Kyai Ahmad Yazid dan Bapak Kalend Osein. Kedua tokoh inilah yang dianggap sebagai founder Kampung Inggris Pare Kediri.

Pertama adalah Kyai Ahmad Yazid seorang alumni Pondok Pesantern Gontor yang menguasai 9 bahasa asing, (umumnya menyatakan 8 dan sedangkan Tulus menyatakan 15 sedangkan Kalend menyatakan 9 bahasa asing).

Beliau adalah seorang guru dan ustaz, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Pare. Dari Kyai Ahmad Yazid, Kalend Osein belajar selama 2 tahun, terutama Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Ilmu Tafsir.

Ternyata titisan ilmu, kearifan dan ketulusan dari Kyai Ahmad Yazid turun kepada Kalend Osein. Menurut Kalend Osein, disamping ilmu Bahasa Inggris yang dia peroleh dari Kyai Yazid, ternyata Ilmu Tafsir Al-Qur’an itulah yang membuka wawasannya dan tertular ke Ilmu Bahasa Inggris.

Beliau memberi contoh, dalam bahasa Inggris misalnya kata “broken home” dipahami hanya rumah tangga yang rusak,berantakan. Akan tetapi dengan pemahaman ilmu tafsir yang dia pelajari, maka ketika sampai pada kata “broken home’ tidak berhenti hanya disitu saja, melainkan bisa kepada makna yang lebih luas lagi.

Penguasaan Bahasa Inggris yang diperoleh Kalend dari gurunya Kyai Yazid, menjadi bekal berharga dan spirit yang luar biasa bagi Kalend untuk mendirikan Lembaga Kursus Bahasa Inggris.

Oleh karena itu sebelum Kalend mendirikan lembaga kursus terlebih dahulu minta izin dan restu kepada gurunya dan ternyata disambut baik dan mendapat dukungan sang guru.

Maka dari itulah Kalend mendirikan lembaga kursus yang pertama di Pare, yaitu Basic English Club (BEC) tepatnya pada tanggal 15 Juni 1977. Dalam hal ini Kyai Ahmad Yazid menjadi tokoh inspiratif dibalik terwujudnya Kampung Inggris Pare.

Kedua, Bapak Kalend Osein, beliau lebih dikenal dengan sebutan Mr. Kalend. Kalend lahir pada 14 Februari 1945 menjadi tokoh sentral dan pelaku yang bersentuhan langsung dengan kepopuleran nama Kampung Inggris Pare.

Setelah saya mengetahui bahwa beliau masih hidup, maka pada esok harinya saya berusaha untuk menemui beliau, sebab tidak sempurna rasanya dan juga tidak nyaman menulis tentang Kampung Inggris tanpa melalui sumber aslinya, yakni founder dibalik nama itu.

Pada pagi hari sehabis sholat subuh, Jumat tanggal 3 Januari 2020 sehari setelah mendapat informasi keberadaan sang founder tersebut, saya menuju ke rumah beliau yang juga lembaga kursus pertama di Pare.

Saya minta tolong kepada salah seorang anak petugas lembaga kursus untuk mengetuk pintu sang Founder, beberapa kali dia ketuk pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam.

Saya pun tetap menunggu, ternyata saya tidak sadar kalau waktu itu masih subuh, sehingga sang tuan rumah masih istirahat sehabis sholat subuh.

Setelah pagi hari, seorang putra Kalend keluar dari rumah untuk mengajar di Kursus itu, dan saya temui untuk mendapatkan informasi tentang pak Kalend, lalu sang putra tersebut menyarankan agar menemui beliau sehabis sholat Ashar atau sehabis Sholat Isya.

Lalu saya pulang ke kost dan ikut bersama teman-teman kursus seperti hari-hari sebelumnya.Setelah sampai waktu sholat Ashar, saya berangkat dengan sepeda Ontel ke mushollah Pak Kalend dan sholat bersama jamaah lainnya. Sehabis sholat saya menyalami beliau dan berkenalan. Lalu beliau tanya asal saya lalu saya jawab dari Makassar.

Ternyata beliau sudah diberi informasi oleh sang putra tadi pagi. Kami menuju teras untuk melakukan wawancara, agar lebih santai di teras. Kami pun memulai dengan semangat persaudaraan dan silaturrahim.

Kami memulai cerita sekitar jam 15.20 WIB dan berakhir pada pukul 16.50 WIB. Mulai dari awal sampai akhir cerita, isinya padat dan berisi, boleh jadi karena telah dipersiapkan sebelumnya.

Beliau memulai cerita tentang kondisinya dalam keluarga di kampung halamannya yang memprihatinkan, yakni di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Sambil bercerita tentang penamaan Kutai Kertanegara, terlihat pada mimik beliau mengenang sesuatu yang sulit dalam hidupnya. Benar bahwa Kalend kecil, diliputi oleh “Kegelisahan yang sangat Kuat” melihat kenyataan di kampungnya yang banyak bekerja di hutan.

Berangkat dari kegelisahan yang kuat tersebut, beliau bertekad untuk berusaha keluar dari permasalahan itu, dan bertekad untuk belajar ke Pondok Pesantren Gontor Ponorogo.

Dalam hati Kalend, sepanjang sungai Mahakam yang panjang itu, belum ada putra Mahakam yang dapat menembus ke Gontor, dan dia bertekad untuk menembus itu. Akan tetapi, kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk berangkat ke Gontor. Lalu Kalend minta petunjuk kepada salah seorang ulama asal Makassar, yakni Ustaz Jaffar Siddiq.

Dalam nasehatnya itu, Kalend mendapat 2 hal penting, yakni bahwa “Belajar di Gontor itu, jangankan sampai selesai, belajar dua tahun saja di Gontor sudah akan jadi orang yang hebat”, dan kedua, diberi nasehat pada Al-Qur’an Surah Ar Ra’du ayat 11, yang artinya “ Tidaklah berubah suatu kaum kecuali dia yang merubah dirinya sendiri”.

Mendengar dua nasehat tersebut, maka kegelisahan Kalend pun semakin hebat, termotivasi yang sangat kuat hingga selama 2 hari dua malam Kalen tidak bisa tidur memikirkan nasehat Ustaz Jaffar Siddiq tersebut.

Tekad yang sangat kuat, tapi tidak ada daya untuk mewujudkannya, sehingga Kalend mengurungkan niatnya untuk sementara waktu. Dalam hatinya, saya tidak bisa berubah kalau saya hanya di Kutai saja bekerja di hutan. Orang hanya bisa berubah dengan otak dan hati.

Kalend mulai bekerja mencari uang selama tiga tahun, tujuannya untuk berangkat ke Gontor. Akan tetapi selama bekerja tersebut Kalend selalu mendapat ujian berat. Ketika menanam padi, pada saat padinya sudah menguning dan yakin akan banyak hasilnya, dia sudah berencana menjual semua kecuali sebahagian kecil untuk keperluan ibunya dibelakang hari, ternyata pada malam harinya datang hujan lebat mengguyur sawahnaya dan hasilnya sangat memprihatinkan, hanya untuk dimakan saja.

Maka batal lah rencana ke Gontor. Lalu kemudian Kalend mulai mencari jalan lain, ia bekerja usaha balok yang terbuat dari kayu, ketika dalam hitungan uangnya cukup untuk membiayai perjalanannya ke Gontor, lalu dibodohi lagi orang, sehingga ia tidak mendapatkan uang yang cukup. Batal lagi rencana ke Gontor.

Lalu yang ketiga, dia bekerja di perusahaan DBTC dengan harapan dia ditempatkan pada posisi yang baik. Namun ternyata posisi yang diharapkan itu sudah terisi oleh orang lain dan dia ditempatkan pada tempat paling rendah, yakni sebagai tenaga servey ke hutan belantara yang belum pernah dilewati orang dengan gaji yang paling rendah, yakni 17.000, rupiah sementara teman-temannya yang lain mendapatkan gaji 35.000 -45.000 rupiah.

Akan tetapi dengan pekerjaan dan gaji yang rendah itu Kalend mendapatkan kepuasan karena bisa punya waktu yang banyak untuk beribadah dengan baik. Dengan gaji yang rendah itu, Kalend sudah punya modal sedikit ditambah bantuan dari keluarga untuk mewujudkan harapannya ke Gontor.

Pada tahun 1972 Kalend berangkat ke Gontor, dan mengikuti tes masuk Pondok Pesantren. Ada sekitar 900 pelamar, sementara kuota hanya 400 orang. Hasil tes menempatkan Kalend pada rangking 45, sehingga dia berhak diterima menjadi santri.

Permasalahan yang muncul adalah umurnya sudah 27 tahun, sementara teman-temannya yang lain baru berumur sebelasan tahun sebab umumnya mereka baru tamat Sekolah Dasar.

Hal ini menjadi beban psikologis yang berat bagi Kalend untuk belajar bersama dengan teman-temannya yang tidak seusia. Anak-anak usia muda lebih kuat hafalannya, sementara dia tidak kuat hafalan, sehingga menjadi beban berat bagia dia untuk belajar di pondok itu. Lalu Kalend mendengar dari 4 orang tokoh yang berbeda dan dari Ustaz Jaffar Sidiq, bahwa jangankan selesai di Gontor, dua tahun saja belajar di Gontor akan jadi orang yang hebat. Pernyataan ini menguatkan lagi semangat Kalend untuk tetap bertahan.

Pada saat kelas 2 semua santri wajib olah raga lari, dan yang tidak punya sepatu harus berlari tanpa alas kaki. Kalend saat itu tidak punya sepatu tapi tidak mampu berlari tanpa sepatu. Maka dia berusaha keras membeli sepatu Jepang.

Sehabis lari, dia simpan sepatunya dan setelah keluar, sepatu itu pun hilang. Kalend marah besar dan sebagai santri paling tua dia melapor ke pos pengamanan dijaga oleh santri.Kalend mengeluarkan semua kemarahannya kepada petugas jaga sampai dia tidak bisa lagi ucapan yang bisa dia ucapkan.

Semua petugas jaga pada diam, tidak satu pun yang bersuara. Setelah Kalend diam, maka petugas jaga angkat bicara dan yang bicara adalah petugas yang paling kecil. Si kecil dengan perlahan berkata, “Kakak, maafkan kami kakak, kita disini tidak bisa menjaga semua sepatunya orang kakak, masing-masing jaga sepatunya kakak.

Di Pondok ini semua orang mau baik kakak, tapi tidak semua orang baik-baik kakak. Ada teman-teman kita dulunya anak-anak yang nakal lalu masuk disini dan kebiasaan itu masih dibawa kesini kakak. Jadi masing-masing kita jaga sendiri sepetunya dan supaya tidak hilang agar ditulis namanya. Mendengar nasehat si kecil itu, lalu Kalend tersadar dan malu sendiri.

Dia berpikir inilah mungkin yang dikatakan orang, kalau belajar 2 tahun saja di Gontor anda akan keluar jadi orang yang hebat.

Setelah Kalend berada pada kelas 5 mulailah dia menyadari pentingnya bahasa Inggris, dan pada saat yang sama biaya sekolah semakin menipis dan tidak mencukupi untuk bisa selesai di Pondok Pesantren Gontor.

Lalu dia mendengar informasi bahwa di Pare ada seorang alumni Gontor yang menguasai 9 bahasa asing. Maka dia pun memutuskan untuk meninggalkan Pondok Pesantren dan menuju ke Pare menemui Ustaz Ahmad Yazid. Selama 2 tahun belajar dalam binaan ustaz Yazid, Kalend sudah mempunyai bekal ilmu Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Ilmu Tafsir.

Pada tahun 1976 datang 2 orang mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya bernama Umar Abdullah dan Sukardono berkunjung ke Pare untuk belajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Namun untuk Bahasa Arab mereka sudah lulus, sehingga hanya bahasa Inggris saja yang perlu mereka dilulusi.

Setiba di Pare, kedua mahasiswa itu bermaksud menemui Kyai Yazid, namun pada saat itu Kyai Yazid tidak ada ditempat.Lalu Istri Kyai Yazid mengarahkan kepada Kalend untuk membimbing kedua mahasiswa tersebut.

Setelah diprlihatkan soal-soalnya, maka Kalend menyanggupi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas 60 persen benar. Setelah kedua mahasiswa tersebut kembali ke Surabaya dan mengikuti tes dinyatakan lulus.

Pada tahun berikutnya berdatangan lah para yunior mahasiswa tersebut untuk belajar di Pare. Kesempatan inilah dimanfaatkan dengan baik oleh Kalend membuka kursus bahasa Inggris.

Mulailah dibuka Lembaga kursus yang pertama pada tahun 1977 oleh Mr. Kalend Osein, dan yang bernama Basic English Course (BEC) dengan jumlah peserta sebanyak 6 orang. Lambat laun secara bertahap peserta kursus makin banyak, maka untuk menampung peminat kursus yang semakin banyak tersebut, makin banyak lembaga-lembaga kursus baru yang bermunculan.

Basic English Course hingga sekarang sudah menamatkan alumni sebanyak 26 ribu lebih. Pada tahun 2000-an nama Pare identik dengan Kampung Inggris.

Berbahagilah Kalend Osein yang dimasa tuanya masih sempat menikmati hasil perjuangannya mewujudkan impian, Pare is English Camp. Selamat bapak Founder English Camp Pare.

Pare, 3 Januari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *