Faktor Pendukung Kampung Inggris

Penulis : Dr. Ahdan Sinilele, M.Si

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia Makassar

WARTALLDIKTI9.COM – Nama Kampung Inggris sudah mendunia, dikenal sebagai kampung yang menyelenggarakan kursus bahasa Inggris, meskipun sebenarnya bukan hanya bahasa Inggris saja yang diajarkan di kampung itu.

Melainkan bahasa-bahasa lain seperti Bahasa Jerman, Bahasa Jepang, Bahasa Belanda, Bahasa Prancis, Bahasa Arab, Bahasa Korea dan sebagainya.

Penamaan Kampung Inggris yang populer itu, sudah barang tentu tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses panjang dan tokoh dibalik itu.

Seperti dalam tulisan sebelumnya diungkapkan bahwa dua tokoh yang tidak bisa terlepas dari jasa pembentukan nama Kampung Inggris, yaitu Kyai Ahmad Yazid dan Bapak Kalend Osein.Kedua tokoh inilah yang dianggap sebagai tokoh inspiratif dan founder Kampung Inggris Pare.

Atas jasa kedua tokoh inilah mengantarkan kampung Pare menjadi Kampung Inggris yang telah menularkan alumni puluhan ribu orang di dalam negeri maupun dari luar negeri.

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa Pare bisa berubah menjadi kampung Inggris dan faktor apa yang mendukung perubahan tersebut ?

Berawal dari kedatangan 2 orang mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya ke Pare untuk menemui ustaz Kyai Ahmad Yazid pada tahun 1976 yang bernama Umar Abdullah dan Sukardono untuk belajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, terutama Bahasa Inggris sebab untuk Bahasa Arab mereka sudah lulus.

Sehingga hanya bahasa Inggris saja yang perlu mereka lulusi sebagai syarat lulus ujian negara. Setiba di Pare, kedua mahasiswa itu bermaksud menemui Kyai Yazid, namun pada saat itu Kyai Yazid tidak berada ditempat.

Lalu Istri Kyai Yazid mengarahkan kepada Kalend yang saat itu sedang menyapu masjid. Kedua mahasiswa itu memperlihatkan soal-soalnya dan ternyata Kalend menyanggupi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas 60 persen benar.

Setelah kedua mahasiswa tersebut kembali ke Surabaya dan mengikuti tes dinyatakan lulus. Sebulan kemudian datanglah kedua mahasiswa itu menginformasikan kalau mereka berdua sudah lulus ujian.

Dengan kelulusan kedua mahasiswa itu, Kalend mulai berpikir bahwa pada tahun-tahun berikutnya akan berdatangan para yunior mahasiswa tersebut untuk belajar di Pare.

Kesempatan inilah dimanfaatkan dengan baik oleh Kalend membuka kursus bahasa Inggris.

Kalend Osein punya optimisme yang tinggi bahwa akan banyak orang yang datang ke Pare untuk belajar Bahasa Inggris.

Dengan optimisme itu, Kalend mulai membuka Lembaga kursus yang pertama pada tahun 1977 yang diberi nama Basic English Course (BEC) dengan jumlah peserta sebanyak 6 orang.

Lambat laun tapi pasti secara bertahap peserta kursus makin bertambah banyak. Setelah sepuluh tahun Kalend Osein membina lembaga kursus BEC, peminat kursus semakin bertambah banyak.

Maka Kalend memotivasi kepada para alumninya untuk membuka lembaga kursus guna menampung peserta yang semakin bertambah tersebut.

Berawal dari situ, maka para alumni mulai membuka lembaga-lembaga kursus Bahasa Inggris dan makin lama makin bertambah yang hingga sekarang sudah mencapai 300 lembaga kursus di Kampung Inggris Pare.

Dengan berkembang pesatnya lembaga-lembaga kursus di Pare, maka kehidupan sehari-hari di Perkampungan Inggris pada umumnya dipenuhi oleh para peserta kursus dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri.

Dan kehidupan itu paling nampak pada setiap periode liburan atau lebih dikenal dengan periode holiday. Setiap periode holiday ribuan pengunjung/peserta kursus berdatangan di Perkampungan Inggris.

Pada tahun 2000-an nama Kampung Inggris sudah populer kemana-mana dan Pare sudah identik dengan Kampung Inggris atau English Camp.

Ketenaran nama Perkampungan Inggris sudah barang tentu didukung oleh berbagai faktor, antara lain adalah dukungan sosial masyarakat setempat.

Berdasarkan observasi penulis salah satu di antaranya adalah terciptanya suasana kondusif bagi Perkampungan Inggris Pare melalui perubahan fungsi-fungsi rumah.

Fungsi-fungsi rumah yang dulunya hanya sebagai rumah tinggal (home life) untuk menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan peserta kursus yang semakin membludak.

Maka fungsi-fungsi rumah tersebut berubah menjadi beberapa fungsi yang disebut the six home factor’s, yaitu home life, home stay, home cost, home camp, home rotery, dan home course.

Pertama, fungsi home life adalah fungsi rumah tinggal bagi penghuni atau pemilik rumah itu sendiri bersama keluarganya yang menjadi tempat hidup mereka.

Rumah dalam fungsi ini menjadi tempat mereka mengarungi kehidupannya sehari-hari secara turun temurun sebagaimana fungsi rumah umumnya. Seluruh aktifitas hidup keluarga semuanya diarahkan ke rumah untuk membangun kehidupan rumah tangga yang sejahtera.

Menurut Nurfadhilah (20 tahun) peserta kursus di Global English, sudah yang kedua kalinya mengikuti program holiday di Pare bahwa kelihatannya rumah-rumah di Perkampungan Inggris tidak ada lagi yang utuh sebagai tempat tinggal keluarga saja terutama rumah dipinggir jalan utama.

Semua berubah fungsi menjadi rumah kursus, rumah makan atau usaha lainnya. Ini yang membuat Perkampungan Inggris semakin nampak dengan aktivitas kursus sebab setiap rumah pasti ada peserta kursus disana, seperti belajar, belanja, makan, kost dan seterusnya.

Kedua, fungsi home stay adalah fungsi rumah bagi pendatang, namun tercipta suasana seperti di rumah sendiri. Fungsi home stay ini bisa jadi rumah keluarga yang sebahagian ruang atau kamar tertentu didizain untuk tamu sebagai tempat tinggal dengan suasana seperti rumahnya sendiri, mereka bisa memasak sendiri dan seterusnya.

Home stay bisa juga rumah yang memang didizain sebagai rumah yang khusus untuk tamu dimana mereka bisa leluasa beraktivitas sebagaimana di rumah mereka sendiri dalam kurun waktu tertentu.

Home stay di Perkampungan Inggris juga tersedia dalam jumlah yang cukup untuk menampung para peserta kursus atau keluarganya.

Ketiga, fungsi home cost adalah fungsi rumah bagi pendatang yang disiapkan hanya sekedar kamar tidur dan fasilitas tertentu yang terbatas.

Di Perkampungan Inggris, home cost ini mewarnai kehidupan sehari-hari. Inilah yang mendominasi rumah-rumah di Perkampungan Inggris sebab pada umumnya rumah disulap menjadi rumah-rumah kost.

Dan banyak dari rumah kost tersebut menyediakan sarana transportasi berupa sepeda sewaan. Menurut Dina (20 tahun) mahasiswa Unair, peserta kursus di Titik Nol mengungkapkan bahwa kursus di Pare memberi banyak kemudahan sebab sarana transportasi cukup banyak tersedia.

Kita tidak mersa malu atau gengsi naik sepeda ontel, sebab sepeda itulah yang banyak mendominasi kehidupan sehari-hari di Perkampungan Inggris. Rental sepeda ontel tersedia dimana-mana dengan biaya murah, yakni antara Rp. 3500 – 5000 per hari atau sekitar Rp. 75.000 per bulan.

Ini sangat memudahkan bagi peserta kursus untuk menjangkau kelas-kelas kursus yang tersebar di beberapa tempat. Penggunaan Sepeda Ontel sudah familiar bagi masyarakat di Perkampungan Inggris, sesuai dengan motto “Safety Cycling, Big or Small The Roads For All”.

Keempat, fungsi home camp adalah fungsi rumah bagi pendatang/peserta kursus dimana rumah tersebut di samping menjadi tempat kost juga sekaligus menjadi camp belajar bahasa bagi peserta dengan aturan-aturan tertentu.

Misalnya selama dalam camp tidak boleh menggunakan bahasa lain selain bahasa Inggris dan jika melanggar atau menggunakan bahasa lain dikenakan denda tertentu.

Pada umumnya lembaga-lembaga kursus yang sudah mapan menyediakan camp bagi peserta kursus. Meskipun demikian camp-camp tersebut terbatas karena harus menyediakan fasilitas tertentu, misalnya ada ruang belajar dan mereka berkumpul bersama serta mereka bisa memasak sendiri.

Kelima, fungsi home rotery adalah fungsi rumah sebagai tempat makan untuk mendukung ketersediaan makanan bagi peserta. Disamping tersedia banyak jumlahnya juga dengan harga yang murah sangat mendukung kemudahan bagi peserta.

Menurut Nurul Fathinah (16 tahun) peserta asal MAN 3 Makassar, bahwa yang menguntungkan kita belajar kursus di Pare adalah karena makanan yang murah dan banyak tersedia dimana-mana.

Tinggal kita memilih mau makan apa, mau yang harga berapa terserah selera kita. Jika maunya yang mahal ada tempatnya dan jika maunya yang murah banyak tersedia di sepanjang jalan. Hampir tidak ada jarak dari satu rumah ke rumah lainnya semua warung-warung makan.

Jika dibandingkan di tempat-tempat lain, misalnya kalau di Pare kita bisa makan dengan harga 7000 – 10.000 rupiah sekali makan. Jadi kalau peserta rombongan itu sangat menguntungkan bisa makan dengan harga sangat terjangkau.

Keenam, fungsi home course adalah fungsi rumah bagi peserta kursus untuk mendukung ketersediaan tempat kursus yang memadai bagi peserta.

Selain gedung-gedung resmi yang dirancang khusus sebagai lembaga kursus, maka rumah-rumah warga banyak disulap menjadi tempat-tempat kursus, sehingga suasana belajar Bahasa Inggris betul-betul mewarnai kehidupan perkampungan Inggris.

Rumah-rumah warga yang bisa menampung sejumlah peserta banyak yang difungsikan sebagai tempat kursus, bahkan teras-teras dan pekarangan semuanya bisa difungsikan sebagai tempat belajar.

Menurut Fathin Hamama (16 tahun) siswa SMK Kesehatan Gigi TNI AL di Makassar mengungkapkan bahwa kursus di Pare menambah wawasan dan pertemanan dengan banyaknya peserta dari daerah lain yang berbeda-beda. Di Pare peserta kursus berasal dari seluruh nusantara bahkan dari luar negeri.

Banyak rumah-rumah menjadi tempat kursus, sehingga banyak juga peserta dari berbagai daerah lain semakin menambah banyak pengunjung kursus. Keenam fungsi home (rumah) inilah menjadi faktor pendukung bagi terciptanya Perkampungan Inggris atau English Camp.

Disamping keenam fungsi home yang mendukung eksistensi Perkampungan Inggris tersebut, maka ketersediaan rumah ibadah melengkapi ketersediaan fasilitas dalam mendukung Perkampungan Inggris.

Menurut Ainul Yaqin (21) peserta asal Sumenep Madura bahwa ketersediaan rumah ibadah, baik masjid maupun mushollah menambah kemudahan bagi peserta kursus untuk melaksanakan ibadah.

Dapat dibayangkan jika jumlah peserta yang ribuan tanpa rumah ibadah yang cukup tentu akan menyulitkan peserta, namun di Perkampungan Inggris ini tersedia banyak mushollah dan masjid.

Jadi menurutnya, kita pergi kursus dapat dunianya dapat juga akhiratnya. Dengan peserta kursus yang banyak juga mempunyai kepentingan yang banyak, bermacam-macam tingkatan, mulai basic, elementery sampai pada kebutuhan TOEFL, ada untuk program grammar, reading, speaking dan lainnya.

Tergantung pada kebutuhan masing-masing peserta. Oleh karena itu banyak lembaga-lembaga kursus yang menyelenggarakan program-program tertentu, misalnya lebih fokus pada speaking atau pada grammar, toefl dan seterusnya, bergantung pada kebutuhan peserta.

Menurut Niswa, salah seorang Tutor pada Lembaga Kursus Global English menyatakan Nowadays, English is like staple food which we have to possess. Good at speaking and writing in English becomes one of the requirement To continue the study, to get the great job, to broaden the business, and so on.

The existence of English village in Pare is an exact solution for who desire to learn English. Furthermore, its atmosphere supports people to upgrade their English ability. Month by month, many visitors to learn English here rapidly increase as each course enhancing their service.

Pada akhirnya kebutuhan akan pengetahuan dan keterampilan dalam berbahasa Inggris merupakan kata kunci mengapa Kampung Inggris menjadi tujuan bagi kebanyakan peserta kursus untuk menimba ilmu.

Hal ini pula lah menjadi harapan besar mengapa sang inspirator dan founder Bapak Kalend Osein mengembangkan Perkampungan Inggris untuk kemajuan anak-anak bangsa melalui Bahasa Inggris. Dan bagi beliau mengajar Bahasa Inggris untuk kebaikan dan kemajuan merupakan ibadah.

Pare, 5 Januari 2020,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *