Penulis Asal Tiga Negara Nara Sumber Seminar Internasional di Fisip Unismuh Makassar

WARTALLDIKTI9.COM – Pelaksanaan rangkaian kegiatan Makassar Internasional Writers Festival (MIWF) 2019 kerjasama Prodi Ilmu Komunikasi, mendapat apresiasi dari Dekan Fisip Unismuh Makassar, Dr.Hj. Ihyani Malik, M.Si.

Apresiasi itu diberikan saat memberi sambutan pada pembukaan seminar internasional bertemakan, “The Taste of Democracy – Writer’s Perspective from Three Countries” dilaksanakan di Ruang Minihall Fisipol Menara Iqra, Lantai 5, Kamis (27/6/2019).

Saat memberi sambutan, Ihyani Malik, mengapresiasi kegiatan MIWF 2019 menempatkan salah satu kegiatannya di kampus karena sangat bermanfaat bagi civitas akademika kampus.

Dijelaskan pula kalau mahasiswa Fisip Unismuh Makassar sekitar 2000 orang dengan dosen 56 orang. Mahasiswa itu menyebar pada tiga prodi yakni; S1 Ilmu Administrasi Negara, S1 Ilmu Pemerintahan dan S1 Ilmu Komunikasi.

Dua prodi yakni Administrasi Negara dan Ilmu Pemerintahan telah mendapat akreditasi dengan nilai A dari BAN-PT sedang Ilmu Komunikasi Terakreditasi dari BAN-PT.

Ihyani mengucapkan selamat datang di Makassar dengan beragam ciri khas dan unik termasuk kuniler dan obyek destinasi wisata lainnya dan mengajak nara sumber dan peserta asal luar negeri untuk enjoy di Makassar.

Seminar menghadirkan tiga penulis dari tiga negara berbeda memberi pengetahuan dan membuka wawasan para mahasiswa dan dosen dalam memahami proses demokrasi dari tiga negara asal nara sumber, tegas Doktor Administrasi Publik PPs-UNM ini.

Kegiatan yang sudah dua tahun digelar di Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Unismuh Makassar ini digagas oleh Rumata Artspace, tandas magister Administrasi Pembangunan PPs-Unhas ini.

Tiga Negara

Nara sumber dalam seminar itu, diaspora Indonesia menetap di Australia, Lily Yulianti Farid; penulis asal Indonesia, Zen Hae, serta Abdul Rahman Shah dari Malaysia dengan moderator John McGlyn.

Lily Yulianti sudah bertahun-tahun menetap di Australia dan menjadi wartawan Radio Australia, menilai cita rasa demokrasi di Indonesia laksana permen dengan rasa nano-nano.

Abd Rahman Shah menilai, membaca karya sastra katanya berarti merekam waktu dan zamannya, sehingga dapat membaca harapan penulis serta memahami zaman sebelumnya.

Zen Hae menilai, Reformasi 1998 jadi eforia untuk ingin mengganti semuanya tetapi kenyataan, mentalitas dari aparat tidak banyak berubah, korupsi dan nepotisme masih tetap saja marak sampai hari ini, tegasnya.

Turut hadir dalam seminar internasional itu mahasiswa dan para dosen, Ketua Prodi S1 Ilmu Komunikasi, Dr. H Muhammad Tahir, M.Si, Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, Dian Muthadiah, S.Sos, M.I,.Kom,

Selain itu beberapa hadir di antaranya; Dr. Muhammad Yahya Mustafa, M.Si, Syukri Djamaluddin, S.Sos, M.Si serta dosen Prodi Ilmu Pemerintahan, Randi Akbar, S.Sos, M.Si. (nurul fadillah-ma’ruf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *